Sabtu, 10 November 2012

Renungan!!!

Masih beranikah membentak Ibunda ?
Masih beranikah membentak Ibunda ?

Istri sholehah

 
Sahabat seorang suami kepada seorang istrinya....Istriku...aku tak ingin engkau pintar merias wajahmu,aku hanya ingin engkau pintar merias akhlakmu....aku tak ingin engkau pintar dalam menyanyi, aku hanya ingin suara merdumu dikala mengaji.” Istriku,janganlah engkau pandai menggosip, lebih indah untuk melakukan perbuatan positif..Janganlah engkau pandai dalam bermain kata,lebih indah untuk perbuatan mulia..” Sejatinya kecantikanmu cukup hatimu bagiku,indahnya suaramu cukup alunan lisanmu dalam membca Al-Quran,karna itu yang mempesonakan rasa dlm hatiku.” Istriku,dari itulah aku menyayangimu,karna aku ingin bersamamu selalu Menuju surga-Nya yang tiada bandingan dalam hidup di dunia ini.” Bukan aku menceramahimu,tapi selayaknya aku mengajakmu imam bagimu.. Untuk menikmati pahit manisnya kehidupan.” Biar dalam dunia ini pahit,tapi kelak di akhirat manis.

Renungan :)

 Jangan biarkan malaikat yg kiri trus mencatat sementara yg kanan hanya diam ...

 

Malam Ini Tak Ada Cinta

SUARA ITU kembali menggoda. "Ya kau takut Ima. Takut pada kenyataan."

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh
Bismillahirrahmanirrahim

SUARA ITU kembali menggoda. "Ya kau takut Ima. Takut pada kenyataan."

"Dan alangkah tragisnya, kenyataan itu menyakitkan hatimu bukan?" ejek suara itu pula.

Ia semakin tersudutkan. Seperti disayat sembilu, uluhatinya terasa perih.Namun tak urung, ia masih mau menyanggah.Mengatasi suara hatinya dengan tanggapan yang berbeda.

"Tidak," katanya setengah berteriak. "Aku tidak apa-apa. Aku bahagia. Aku sudah berhasil." Maka serentak itu wajahnya pun berubah nanar. Kemerahan membauri, dan kemarahan menyeliputinya.

Diamatinya sekeliling. Dilihatnya sekitar. Diingat dan dibayangkannya segala sesuatu.

Rumah besar dengan halaman berumput yang dihiasi kolam renang. Taman pepohonan indah, lengkap dengan kendaraan dan perabotan mutakhir yang diganderungi manusia modern. Mobil mewah di garasi dengan peralatan elektronikanya yang menyenangkan. Ac, tv, dvd, cd, stereo tape. Sedang di dalam rumah ada home teatre dan segala macam elektronika hasil industri era informasi. Hiasan interior, satu stel kursi sofa, lemari pajangan, lampu kristal, lukisan, sampai permadani Iran, dapur modern dengan kompor gas dan alat penghisap udara tak sedap. Kulkas, mesin cuci, pokoknya keperluan dan alat rumah tangga yang menyenangkan perempuan.

"Ya," katanya pula menguatkan hati. "Aku memang sudah berhasil. Bahagia."

Sekilas wajahnya menampakkan kepuasan dan kebanggaan.

Namun, itu pun tak lama. Suara lain kemudian menghuni hatinya.

"Tetapi....," dan ia seperti mernung-renung.

"Bukankah rumah ini sepi?" katanya. "Tiada tawa dan canda anak? tiada belai kasih seorang suami? seorang lelaki?" Perasaannya terhimpit pula. Tertekan dan terejek lagi. 

Tak tahan untuk tidak menumpahkan segala rasa, maka ia pun menangis. Dan tangisan itu begitu menyayat.....

Segala sesuatu kemudian membayang. Memantulkan cerita duka dalam benak, atas kejadian dan perjalanan hidup yang dialaminya.....

("Dialog" dalam buku kumpulan cerpen "Serial Gender" >Malam Ini Tak Ada Cinta", Fatma Elly, Establitz)

"Dan alangkah tragisnya, kenyataan itu menyakitkan hatimu bukan?" ejek suara itu pula.

Ia semakin tersudutkan. Seperti disayat sembilu, uluhatinya terasa perih.Namun tak urung, ia masih mau menyanggah.Mengatasi suara hatinya dengan tanggapan yang berbeda.

"Tidak," katanya setengah berteriak. "Aku tidak apa-apa. Aku bahagia. Aku sudah berhasil." Maka serentak itu wajahnya pun berubah nanar. Kemerahan membauri, dan kemarahan menyeliputinya.

Diamatinya sekeliling. Dilihatnya sekitar. Diingat dan dibayangkannya segala sesuatu.

Rumah besar dengan halaman berumput yang dihiasi kolam renang. Taman pepohonan indah, lengkap dengan kendaraan dan perabotan mutakhir yang diganderungi manusia modern. Mobil mewah di garasi dengan peralatan elektronikanya yang menyenangkan. Ac, tv, dvd, cd, stereo tape. Sedang di dalam rumah ada home teatre dan segala macam elektronika hasil industri era informasi. Hiasan interior, satu stel kursi sofa, lemari pajangan, lampu kristal, lukisan, sampai permadani Iran, dapur modern dengan kompor gas dan alat penghisap udara tak sedap. Kulkas, mesin cuci, pokoknya keperluan dan alat rumah tangga yang menyenangkan perempuan.

"Ya," katanya pula menguatkan hati. "Aku memang sudah berhasil. Bahagia."

Sekilas wajahnya menampakkan kepuasan dan kebanggaan.

Namun, itu pun tak lama. Suara lain kemudian menghuni hatinya.

"Tetapi....," dan ia seperti mernung-renung.

"Bukankah rumah ini sepi?" katanya. "Tiada tawa dan canda anak? tiada belai kasih seorang suami? seorang lelaki?" Perasaannya terhimpit pula. Tertekan dan terejek lagi.

Tak tahan untuk tidak menumpahkan segala rasa, maka ia pun menangis. Dan tangisan itu begitu menyayat.....

Segala sesuatu kemudian membayang. Memantulkan cerita duka dalam benak, atas kejadian dan perjalanan hidup yang dialaminya.....

("Dialog" dalam buku kumpulan cerpen "Serial Gender" >Malam Ini Tak Ada Cinta", Fatma Elly, Establitz)

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More