KISAH HIKMAH MENABURKAN SOBEKAN2 KERTAS ...
Bismillahir-Rahmaanir-Rahim
... Kisah ini saduran dari sebuah dongeng internasional tentang Bulu
Angsa (saya lupa pengarangnya karena menghafalnya di luar kepala sejak
10 thn lalu), saya menggantinya dengan versi Indonesia. Jika ada
kesamaan dengan inti cerita, ini dimaksudkan untuk diambil manfaatnya
saja.
“Hari ini kita belajar tentang Fitnah
,” ucap Ibu Hanifah saat memulai pelajarannya.
“Buka halaman berapa bu?” tanya anak-anak hampir bersamaan.
Ibu Hanifah menggeleng, “Gak perlu, kalian cukup mengeluarkan
selembar kertas kosong. Boleh kertas bekas, boleh kertas kosong. Apa
saja, masing-masing anak hanya boleh satu lembar. Lalu sobek-sobeklah
kertas itu sekecil-kecil mungkin.
Siapa yang paling kecil dan
paling banyak menghasilkan sobekan kertas, akan mendapat kesempatan
pertama melakukan langkah selanjutnya. Tampung hasil sobekan kalian
nanti di sini!”
Ibu Hanifah memberi kode ketua kelas untuk membagikan puluhan kotak kosong yang tadi dibawanya masuk pada seluruh murid.
“Memangnya langkah selanjutnya apa bu?” tanya Aswan ingin tahu.
Pelajaran PPKN dari Ibu Hanifah selalu menarik untuk diikuti dan Aswan
sangat suka hal-hal menyenangkan seperti ini. Mana ada kan guru menyuruh
menyobek kertas kecil-kecil?
“Mmm… baiklah, dia akan mendapatkan kesempatan pertama menyebarkan sobekan kertas itu nanti,” jawab Ibu Hanifah.
“Hah? Yang benar bu?” Ibu Hanifah mengangguk. Melihat anggukan itu,
anak-anak langsung melakukan perintah si Ibu guru dengan cepat. Suara
mereka ribut saat mulai menyobek-nyobek kertas, memamerkan pada temannya
dan saat melihat temannya jauh lebih banyak, mereka kembali menyobek
kertas-kertas itu hingga hampir menjadi seperti butiran.
“Ckckck! Kalian memang hebat kalau diajak main ya? Coba kalau belajar
juga seperti itu juga.” Ibu Hanifah tertawa kecil saat melihat betapa
bersemangatnya para murid diajak seperti itu.
“Ini juga kan lagi belajar, bu,” jawab Siti Farida sambil tertawa geli. Ibu Hanifah hanya tersenyum-senyum.
“Oke, sekarang siapa yang paling banyak? Ayo maju satu persatu biar
Ibu periksa! Nanti setelah itu jadikan satu dalam tas plastik itu ya!”
“Baik, Bu!”
Satu persatu semuanya maju. Dan seperti perkiraan Bu Hanifah,
Aswanlah pemenangnya. Aswan girang sekali. Dia tak pernah juara kelas,
tapi soal beginian dia paling suka.
“Oke, sobekannya sudah
kita kumpulkan semua. Aswan, kamu bawa tas plastik ke lapangan ya. Dan
anak-anak yang lain, kita ke lapangan bola dulu.”
“Eh, jangan-jangan mau ditebar di lapangan bola nih?” celetuk Kasih saat rombongan itu berjalan beramai-ramai.
“Masak boleh sih? Entar siapa yang mau bersihin?”
“Memangnya apa hubungannya dengan fitnah ya?”
Meski ikut mendengar celetukan anak-anak didiknya, Ibu Hanifah tak
berkomentar apapun. Ia tetap meneruskan langkahnya dengan yakin. Begitu
tiba di tepi lapangan bola yang berangin, Ibu Hanifah meminta anak-anak
berjejer rapi. Aswan dipanggil ke sisi Ibu Hanifah.
“Sekarang, ambil sebanyak yang kamu, Wan. Genggamlah, lalu tiuplah sesukamu!”
Mata Aswan membulat. “Benar nih, Bu?” Ibu Hanifah mengangguk.
Tangan Aswan membuka tas plastik dengan cepat, mengambil segenggam
besar sobekan kertas sementara teman-temannya yang lain memintanya
menyisakan untuk mereka. Dengan penuh semangat ia meniup sekencang
mungkin sobekan kertas itu, dibantu oleh angin dengan cepat sobekan
kertas itu menyebar ke mana-mana.
Kepala Sekolah dan Guru
Olahraga ikut menyaksikan dari kejauhan. Melihat kejadian itu. Pak Hasim
si Guru Olahraga berang. “Eeeh, apa-apaan mereka itu?” Ia hendak
beranjak menuju lapangan ketika tangannya ditarik oleh Kepala Sekolah.
“Biarkan saja, Pak Hasim. Tadi Bu Hani sudah minta izin sama saya. Dia janji akan membereskannya. Kita lihat saja.”
Aswan puas saat memandang hasil sobekan yang menyebar cukup banyak.
Ibu Hanifah menatap ke arah anak-anak yang lain dan satu persatu mereka
melakukan hal yang sama seperti Aswan walaupun tak sebanyak yang Aswan
sebar.
Setelah sobekan kertas habis, anak-anak saling
tertawa lepas. Mereka senang melihat hasil “permainan” mereka yang
menyenangkan.
“Nah, sekarang! Tugas kalian yang terakhir
adalah… ” Ibu Hanifah tersenyum manis. Anak-anak diam mendengarkan.
“Kumpulkan lagi semua sobekan kertas yang kalian tebar, dimulai dari
yang paling pertama menebarnya!”
“Apa??” Anak-anak berteriak kaget.
“Kata Ibu, tadi boleh. Kok sekarang harus mengumpulkan sih?” tanya Aswan merengut kesal.
“Memangnya tadi Ibu bilang habis menebarkan kertas itu maka
tugasnya selesai?” Anak-anak menggeleng. Mereka melotot pada Aswan, si
tertuduh yang paling banyak menyobek kertas.
“Bu, pakai sapu boleh ya bu?” rayu Aswan. Ibu Hanifah menggeleng. Wajah kecewa terlihat di wajah murid-murid yang lain.
Meskipun bersungut-sungut anak-anak memungut sobekan kertas itu,
beberapa dari mereka mengomel pada Aswan. Beberapa kali Aswan disalahkan
teman-temannya karena sobekan kertas Aswanlah yang paling kecil hingga
sulit untuk diambil, Maka setiap kali mereka menemukannya, Aswan pun
dipanggil untuk memungutnya. Tak heran dia nampak kelelahan sebelum
selesai melakukannya.
“Sudah cukup!” kata Bu Hanifah.
Lapangan belum bersih benar, tapi karena melihat anak-anak sudah lelah
maka Ibu Hanifah menyudahi tugasnya.
“Fitnah itu seperti
sobekan kertas-kertas yang kalian tebar itu. Ia begitu ringan dan mudah
sekali tertiup, dihembuskan oleh sedikit angin maka dengan cepat ia akan
menyebar ke mana-mana.”
Ibu Hanifah menunduk, mengambil satu sobekan kertas yang berada di dekatnya
. “Kadang-kadang karena terlalu kecil dan hanya karena nafsu, fitnah
tak lagi jelas apa bentuknya. Contohnya sobekan ini, apa kalian tahu ini
sobekan ini tadinya apa jika tadi tak melihat bentuknya dari awal?
Tidak. Karena yang kalian lihat hanyalah potongan kecil dari sebuah
kertas. Entah apa kertas ini sebelumnya ada tulisannya atau masih
kosong? Tak ada yang tahu.”
Anak-anak terdiam mendengarkan.
“Sekarang, saat kalian harus mengumpulkan kembali sebaran kertas
itu. Tidak mudah, bukan? Padahal ini tak seberapa dibandingkan fitnah
atau gosip bohong yang terlanjur menyebar. Jika mengumpulkan kertas
masih bisa dilakukan, memperbaiki fitnah itu benar-benar sangat sulit.
Jadi kalian bisa memetik pelajaran hari ini?”
“Bisa!!” teriak anak-anak bersamaan.
“Apa itu? Coba Aswan kamu jawab, pelajaran apa yang kamu dapat hari
ini?” tanya Ibu Hanifah sambil tersenyum menggoda. Sejak tadi wajah
muridnya yang paling keras kepala itu sudah cemberut terus.
“Mmm… Nanya dulu sampai selesai sebelum mengerjakan tugas bu Hani!”
jawab Aswan seenaknya yang disambut gelak tawa teman-temannya. Ibu
Hanifah juga tertawa.
“Iya bu, kami paham. Membuat fitnah
itu segampang menyobek kertas, lalu gosip atau fitnah itu mudah sekali
dihembuskan atau ditiupkan, tapi kalau sudah tersebar maka akan sulit
diperbaiki lagi,” jawab Farida setelah mereka berhenti tertawa,
memperbaiki jawaban Aswan yang asal-asalan.
“Ya, bagus. Itu
kesimpulan pelajaran yang ingin Ibu berikan buat kalian. Semoga kalian
tetap mempertahankan kesimpulan ini benar-benar sampai kapanpun dan
paling penting benar-benar mempraktekkannya. Sekarang kalian boleh
mengambil sapu dan bersihkanlah sisa sobekan kertas ini sampai bersih.
Pelajaran selesai setelah kalian menyelesaikannya, setelah itu kalian
boleh istirahat!”
Pekik riang anak-anak pecah seketika,
termasuk Aswan yang dari tadi masih terlihat kesal. Sementara dari
kejauhan, tatapan kagum terpancar dari sepasang mata milik Kepala
Sekolah dan Pak Hasim yang menyaksikannya dari kejauhan sedari tadi. Ibu
Hanifah memang unik, seringkali memberi pelajaran dengan cara yang aneh
tapi apa yang diajarkannya benar-benar mengena dalam hati.
*****
Semoga kita dapat mengambil pengetahuan yang bermanfaat dan bernilai ibadah ..
Wabillahi Taufik Wal Hidayah, ...
Salam Terkasih ..
Dari Sahabat Untuk Sahabat ...
... Semoga tulisan ini dapat membuka pintu hati kita yang telah lama terkunci ...
Semoga bermanfaat dan Dapat Diambil Hikmah-Nya ...
Silahkan DICOPAS atau DI SHARE jika menurut sahabat note ini bermanfaat ....
#BERSIHKAN HATI MENUJU RIDHA ILAHI#