Sabtu, 10 November 2012

Ya Rabb..Matikanlah Saya…dan hidupkanlah Ayahku…!!

Ya Rabb..Matikanlah Saya…dan hidupkanlah Ayahku…!!

 
 
Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ... Pagi ini kubangun dengan cepat sebagaimana kebiasaanku..walaupun ini hari libur, begitupula anakku Reem, terbiasa dengan bangun lebih pagi.

Lalu Saya duduk di ruang kerjaku dan mulai menyibukkan diri dengan buku-buku dan lembaran-lembaran kertasku..


“Mama, apa yang kau tulis?”

“Saya menulis surat untuk Rabb, nak”

“Apakah kau mengizinkaku untuk membacanya mama?”

“Tidak anakku sayang, ini surat yang sangat special dan tidak kuizinkan siapa pun membacanya”

kukeluarkan Reem dari ruang kerjaku, dan dia sangat sedih, namun kuyakin ia telah terbiasa dengan perlakuan ku itu, karena penolakanku bukan sekali ini saja tapi telah berulang kali

Berlalu beberapa pekan kejadian itu, hingga suatu hari Saya masuk ke kamar Reem dan dia sangat terkejut gugup dengan kedatanganku…Ada apa?mengapa ia seperti itu?

“Reem…apa yang sedang kau tulis?”

Kuliahat ia makin gugup dan menjawab “ Tidak mama…ini sesuatu yang spesial”

Apa gerangan yang telah dituliskan seorang anak sembilan tahun, dan ia khawatir untuk kuketahui??!!

“ Saya menulis surat untuk Rabb, sepertimu ….”

Ucapannya terputus tiba-tiba, lalu ia meneruskan “ tapi…apakah yang kita tulis ini akan sampai pada-Nya mama?

“Tentu anakku…sesungguhnya Allah mengetahui segala sesuatu…”

Ia tetap tak mengizinkan ku membaca apa yang telah ditulisnya, Saya pun keluar dari kamarnya dan menemui suamiku Rasyid yang sedang sakit untuk membacakannya koran pagi sebagaimana biasanya, lisanku membaca baris demi baris isi koran namun fikiranku tak lepas dari anakku…ternyata Rasyid memperhatikan ekspresiku… dan menduga bahwa dirinya sebab kesedihanku… ia mencoba meyakinkanku untuk menghadirkan perawat untuknya… agar bebanku sedikit berkurang…

Ya Ilahi, sungguh Saya tak pernah berfikir demikian..kudekap dan kukecup kepalanya yang dipenuhi beban dan peluh karena memikirkan diri ini dan anaknya Reem..dan membuatku turut bersedih hari ini..lalu kusampaikan padanya sebab resah dan sedih ku…

Hari ini Reem kesekolah, dan ketika ia kembali kerumah ,dokter sedang terburu-buru memeriksa Ayahnya yang sakit, ia pun duduk disamping ayahnya memberi semangat dengan penuh cinta.

Sebelum Dokter beranjak pergi, ia menjelaskan kepadaku bahwa keadaan Rasyid semakin memburuk. dan seolah Saya lupa kalau Reem masihlah sangat kecil, hingga tanpa kasihan padanya Saya berterus terang bahwa hati ayahnya yang dipenuhi cinta untuk Reem kini telah melemah, dan ia hanya mampu bertahan hidup tidak lebih dari 3 pekan lagi. Hancur hati Reem, ia mulai menangis dan berkata :

“Mengapa semua ini menimpa Ayah? mengapa?”

“Doakanlah kesembuhan untuk Ayah Reem, kita harus melewati semua ini dengan tegar, dan tidak melupakan rahmat Allah, sungguh Dia Maha Kuasa atas segala yang terjadi..dan kau sudah besar..” Reem menyimak semua apa yang diucapkan Ibunya, berusaha menghilangkan kesedihannya, menepis jauh rasa sakitnya dan berusaha untuk tampak tegar, kemudian berkata : “ Ayah ku tak akan mati “

Setiap pagi Reem mencium pipi ayahnya yang hangat, namun pagi ini ia menciumnya dengan tatapan kasih penuh harap, dan berkata : “ Semoga suatu hari nanti kau bisa mengantarku seperti teman-temanku yang lain…” , Ayahnya seketika diserbu keharuan dan kesedihan namun berusaha ia tutupi, ia berkata : “ InsyaAllah, akan datang hari dimana Saya akan mengantarmu Reem..” dan ia yakin ucapannya barusan tak akan pernah mampu menyempurnakan kebahagiaan putri kecilnya.

Kuantar Reem kesekolahnya, dan setiba di rumah tiba-tiba rasa ingin tahu akan surat yang ditulis Reem untuk Allah muncul, maka kumencari dikamarnya, namun setelah pencarian yang panjang ku tak menemukannya. Dimana surat itu???! Apakah ia merobek setelah menulisnya??!

Hah…mungkin di kardus ini, kardus yang ia minta dariku berulang kali, maka kukosongkan dan kuberikan padanya..Ya Ilahiy…kardus ini berisi surat yang sangat banyak…dan semuanya untuk Allah!

**Ya Rabb…Ya Rabb..matikanlah anjing Sa’id tetangga kami …karena ia telah membuatku takut!!

**Ya Rabb...Biarkanlah kucing kami melahirkan anak yang banyak..menggantikan anak-anaknya yang banyak mati!!!

**Ya Rabb…Luluskanlah sepupuku…karena Saya mencintainya!!

**Ya Rabb…Jadikanlah bunga-bunga di kebun kami tumbuh dengan cepat…untuk Saya petik dan berikan ke guruku tiap harinya!!

Dan banyak lagi surat-surat yang lain, yang begitu lugu ia tuliskan dan surat terakhir yang kubaca berbunyi :

**Ya Rabb..kuatkanlah akal pembantu kami..agar tidak membebani ibuku..

Ya Ilahiy, semua suratnya telah terjawab, anjing tetangga kami telah mati lebih dari sepekan yang lalu, kucing kami pun telah melahirkan anak yang banyak, Ahmad telah lulus dengan nilai yang tinggi, bunga-bunga bermekaran dengan cepat, dan Reem memetiknya tiap hari untuk gurunya…

Ya Ilahiy, mengapa Reem tak menuliskan surat dan memohon untuk kesembuhan Ayahnya dari sakit??...!!

Sedih bercampur bingung meliputi hatiku…belum juga reda sampai Saya dikagetkan deringan telpon, pembantu kami mengangkatnya lalu memanggilku,

“ Nyonya…dari guru Reem..”
“Iya, ada apa bu?ada apa dengan Reem?apa dia melakukan sesuatu?”

Ia menyampaikan bahwa Reem jatuh dari lantai 4..ketika ia membawakan bunga gurunya yang tidak hadir di sekolah hari ini.. ia menjulurkan kepalanya dari balkon.. bunganya terjatuh…dan ia pun terjatuh..

Pukulan yang sangat keras bagiku tak mampu kuberbuat apapun begitu pula Rasyid..dan keterkejutan ini membuatnya tak mampu menggerakkan lisannya sejak hari itu

“Mengapa Reem harus meninggal…Saya sungguh tak mampu memikirkan kematian putriku tercinta..”

Dan kini seolah Saya menipu diriku sendiri dengan kesekolah Reem tiap pagi seperti mengantarnya, kukerjakan semua apa yang ia senangi untuk kulakukan, semua sudut rumah mengingatkanku padanya, senantiasa kuteringat suara tawa nya yang menghidupkan suasana di rumah ini..beberapa tahun berlalu…namun terasa hanya beberapa hari saja…berjalan begitu lambat

Pagi hari jum’at…tiba-tiba pembantu kami datang dan ia ketakutan berkata..bahwa ia mendengar suara berasal dari kamar Reem…Ya Ilahiy, apakah masuk akal kalau Reem kembali?? ini gila..

“Kamu mengkhayal..” Saya belum pernah menginjakkan kaki di kamar ini sejak kematian Reem..

Rasyid bersikeras agar Saya ke kamar Reem dan melihat ada apa disana..

Kumasukkan kunci di pintu dengan hati was-was …kubuka pintu dan tak sanggup mengendalikan diri..Saya duduk dan terus menangis…kuhempaskan badanku di tempat tidurnya..ahh…kenangan!!

Reem pernah menyampaikan berulang kali padaku kalau tempat tidurnya bergeser jika ia bergerak, dan mengeluarkan suara…dan Saya selalu lupa untuk memanggil tukang kayu untuk memperbaikinya…tak ada guna lagi sekarang…

Tapi, dari mana asal suara tadi…ya, itu suara dari jatuhnya lukisan ayat kursi yang ia hias karena sangat semangat membacanya tiap hari sampai ia menghafalkannya..

Ketika Saya mengangkatnya untuk memasang kembali, Saya menemukan secarik kertas yang ia taruh dibelakang lukisan…Ya Ilahiy, ini salah satu suratnya…Apa gerangan isi surat ini??!! dan mengapa Reem meletakkannya di belakang tulisan ayat mulia??!! surat ini salah satu dari surat-surat yang dituliskannya untuk Allah…dan di dalamnya tertulis :

**Ya Rabb…Ya Rabb..Matikanlah Saya…dan hidupkanlah Ayahku…!!

Wabillahi Taufik Wal Hidayah, ...

Salam Terkasih ..
Dari Sahabat Untuk Sahabat ...

... Semoga tulisan ini dapat membuka pintu hati kita yang telah lama terkunci ...

Semoga bermanfaat dan Dapat Diambil Hikmah-Nya ...
Silahkan DICOPAS atau DI SHARE jika menurut sahabat note ini bermanfaat ....

#BERSIHKAN HATI MENUJU RIDHA ILAHI#

KISAH HIKMAH MENGAJI SEJAK KECIL

KISAH HIKMAH MENGAJI SEJAK KECIL ...

Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ... Sebuah kisah tentang makna di balik perintah mengaji ...

“Jen, udah ngaji beluuum?”

“Jangan lupa, selesai sholat ngaji dulu. Jen.”
“Hapalanmu sudah sampai mana? Kok gak maju-maju sih?”

Kata-kata itu menemaniku sejak kecil. Suara Ibu yang berkali-kali dan tak pernah lelah mengingatkan aku untuk rajin mengaji. Entah dari kapan aku mulai mengaji, aku bahkan sudah lupa. Rasanya kalau tak salah, aku belum sekolah TK ketika Ibu ‘menyeret’ ku ke Mesjid.

Aku memang segan ikut belajar mengaji waktu itu. Masdar Ali, nama guru mengajiku terkenal galak luar biasa pada anak-anak yang suka bermain-main di depan halaman ketika shalat berjama’ah berlangsung. Meskipun tak pernah dimarahi, tetap saja suara seram Masdar membuatku takut padanya.

Tapi ketakutan itu hanya sesaat, setelah beberapa waktu aku mulai suka mengaji. Aku suka mengaji dan menghapal Al Qur’an bukan karena aku memahami artinya mengaji atau gunanya untukku. Aku suka karena setiap kali aku hapal satu surah Al Qur’an, Ayah dan Ibu lantas memberiku pujian. Semakin banyak aku hapal, Ayah dan Ibu semakin sering memujiku. Wajah gembira dan bahagia itulah motivasi terbesarku saat itu.

Memang tak ada hadiah yang diberikan, tapi rasanya saat itu hanya dengan kepuasan yang terpancar di wajah orangtua, aku sudah puas. Aku menjadi anak favorit Ibu karena lebih cepat dan lebih banyak menghapal dibandingkan dua saudaraku yang lain, Jon dan Eris.

Semakin besar, semakin banyak yang harus kuhapal dan kupelajari. Hadits-hadits pun menjadi tambahan pelajaran setelah mengaji. Dan untunglah, aku memiliki otak yang sepertinya langsung menyerap semua pelajaran itu dengan mudah. Makin lama makin banyak.

Usiaku terus bertambah. Kebiasaan menghapal Al Qur’an dan Hadits tak lagi disebabkan Ayah dan Ibu. Aku mengaji karena kebiasaan, dan anehnya setelah melantunkan beberapa ayat meskipun hanya beberapa baris rasanya ada ketenangan yang menyusup di batinku. Ketenangan itulah yang menjadi penyebab aku tak pernah melepaskan kebiasaanku itu.

Sampai kemudian dalam pergaulan sehari-hari, isi hapalanku baik ayat-ayat Al Qur’an maupun hadits Nabi menjadi sedemikian akrab di kepalaku. Setiap kali ada yang menyinggung soal mandi dan membersihkan tubuh, tanpa sadar aku mengarahkannya pada isi ayat atau hadits yang berhubungan dengan itu.

Begitu juga dengan tata cara hidup yang lain seperti pergaulan baik pada orangtua, pada perempuan, pada lelaki yang bukan seiman, semua ada dalam hapalan yang kuingat. Teman-teman juga mulai banyak bertanya padaku tentang ta’aruf, tentang pernikahan sampai soal warisan. Aku tak tahu, ternyata di antara banyak teman-temanku ada banyak yang tak sempat mengaji apalagi sampai menghapal.

Ketika dewasa, aku bertandang sekali ke rumah guru mengajiku. Masdar Ali, yang kini sudah tua renta. Suaranya yang galak tak lagi terdengar, hanya berganti dengan suara serak yang lemah. Mesjid tempatku belajar juga tak seramai dulu lagi saat maghrib menjelang.

Memang masih ada beberapa anak yang mengaji, tapi jumlah mereka bisa dihitung jari. Menurut Masdar, banyak anak-anak ikut les pelajaran umum di malam hari sehingga memilih untuk tidak mengaji. Ada nada keprihatinan saat Masdar menjawab pertanyaanku soal mesjid dan pengajian.

Setiap bulan memang ada pengajian, tapi itu hanya diikuti oleh orang-orang tua saja. Setiap tahun kala Ramadhan, memang ada pengajian dari malam bergantian hingga pagi menjelang. Tapi itu hanya musiman, demikian kata Masdar sedih.

Dulu, rasanya tak lengkap jika ada orangtua tak mengajari anaknya mengaji, menyuruhnya sholat dan menghapal surat Al Qur’an serta Hadits. Sekarang jarang sekali ada rumah yang memperdengarkan suara-suara orang mengaji di malam-malam hari. Malah yang lebih terdengar banyak adalah suara televisi yang sedang menyiarkan sinetron.

Aku terdiam, Masdar Ali memang benar. Seandainya dulu tak pernah dipaksa Ibu mengaji, aku mungkin tak mendapatkan hikmah di balik lantunan ayat-ayat yang kuhapalkan itu.

Tanpa kusadari, aku sedang membentuk pondasi dasar untuk kepribadianku, untuk menuntunku kelak menjalani hidup agar sesuai dengan kaidah agama yang kuanut. Aku menghapal semuanya dalam kepalaku, mengingatnya sepanjang hidup dan menjalaninya dalam kehidupan sehari-hari.

Dan aku sangat sedihmendengar seorang teman berkata “Lo kok ngaji sih, Jen? Memangnya ini bulan Ramadhan ya?” pada suatu hari di siang bolong seusai shalat jumat di akhir bulan Dzulhijah.

***
Semoga kita dapat mengambil pengetahuan yang bermanfaat dan bernilai ibadah ..

Wabillahi Taufik Wal Hidayah, ...

Salam Terkasih ..
Dari Sahabat Untuk Sahabat ...

... Semoga tulisan ini dapat membuka pintu hati kita yang telah lama terkunci ...

Semoga bermanfaat dan Dapat Diambil Hikmah-Nya ...
Silahkan DICOPAS atau DI SHARE jika menurut sahabat note ini bermanfaat ....

#BERSIHKAN HATI MENUJU RIDHA ILAHI#

Perjuangan Seorang Ibu

Inilah sebuah gambar, sebuah alasan mengapa kita jangan sampai durhaka pada kedua orang tua, betapa hebatnya perjuangan seorang Ibu demi menghidupi kita, anaknya..
Inilah sebuah gambar, sebuah alasan mengapa kita jangan sampai durhaka pada kedua orang tua, betapa hebatnya perjuangan seorang Ibu demi menghidupi kita, anaknya..

Setiap ujian yang Allah bagi

Setiap ujian yang Allah bagi, pasti Ada hikmahnya. Semakin Allah sayang kepada hambaNya, semakin besar & kuat ujian buatnya..
Setiap ujian yang Allah bagi, pasti Ada hikmahnya. Semakin Allah sayang kepada hambaNya, semakin besar & kuat ujian buatnya..

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More